RESENSI TENTANG KAMU
Nama : Felira Sabrin Tambunan
Kelas : XI IPA 3
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Guru Pembimbing : Harry Syahputra Gultom M.Pd
Identitas Buku :
Judul : Tentang Kamu
Penerbit : PT Sabak Grip Nusantara
Penulis : Tere Liye
Cetakan : 10. November 2022
Jumlah Hlm : 503 hlm
Ukuran : 20,5cm × 13,5cm
Sinopsis :
•Thompson n Co
Zaman Zulkarnaen, lelaki tiga puluh tahunan, lulusan Magister Hukum di Universitas Oxford, secara mendadak ditelepon oleh Sir Thompson, penguasa tunggal firma hukum Thompson n Co. Atas permintaan Sir Thompson, Zaman akhirnya segera bergegas menuju stasiun untuk melakukan perjalanan ke Belgrave Square. Sesampainya di kantor firma hukum tersebut, ternyata Zaman diutus untuk menangani warisan klien besar firma hukum. Klien besar itu ternyata seorang wanita dan berasal dari negara yang sama dengan negara asal Zaman. Tanpa basa-basi, Zaman bergegas membereskan berkas dan melakukan investigasinya.
• La Cerisaie Maison De Retraite
Beberapa minggu kemudian, Zaman memutuskan untuk pergi ke Quai d'Orsay. Tiga puluh menit membelah jalanan, akhirnya ia sampai di La Cerisaie Maison De Retraite, panti Jompo. Zaman mendorong pintu masuk dan betemu sosok perempuan berusia tiga puluhan, menggunakan pakaian perawat berwarna biru muda. Zaman menyapa perempuan itu dengan bahasa Perancis. Lalu perempuan itu bertanya hal apa yang membuat Zaman datang ke panti tersebut. Zaman menjelaskan bahwa ia ingin bertanya mengenai Sri Ningsih, klien yang sedang ia selidiki warisannya. Aimee, perempuan pengurus panti tersebut, tidak segan-segan memberi informasi Sri Ningsih pada Zaman. Aimee asyik menjelaskan perjalanan Sri Ningsih datang ke panti jompo itu hingga akhirnya matanya berkaca-kaca mengingat Sri Ningsih telah meninggalkan mereka selamanya.
•Pulau Bungin
Zaman bergegas melakukan penerbangan ke Jakarta setelah mendapat buku diary tua tipis milik Sri ningsih yang ia terima dari Aimee. Zaman meneliti buku diary Sri Ningsih secara seksama. Dia teliti memperhatikan tulisan-tulisan tangan Sri Ningsih dan akhirnya ia mengetahui salah satu lokasi terpenting dalam hidup Sri Ningsih, yaitu Pulau Bungin, Sumbawa.
• La Golo
Sesampai di Pulau Bungin, Zaman langsung disambut sebuah mobil jeep dengan pengendaranya yang bernama La Golo. Zaman meminta Golo untuk mengantarnya kepada penduduk Pulau Bungin yang bisa menceritakan kejadian di Pulau tersebut pada tahun 1940-an. La Golo akhirnya dapat mempertemukan Zaman dengan Pak Tua setelah beberapa hari menunggu kembalinya Pak Tua ke Pulau Bungin. Mereka mengunjungi rumah Pak Tua, beliau menyambut mereka dengan hangat. Saat bertanya mengenai Sri Ningsih, ekspresi Pak Tua berubah.
• Nugroho dan Rahayu
Nugroho, ayah Sri Ningsih adalah seorang pelaut. Bahkan, di saat istrinya, Rahayu sedang mengandung anak mereka, Nugroho harus tetap tega meninggalkan istrinya demi mencari uang. Suatu hari, mereka mengadakan tradisi Suku Bajo yang selalu dilangsungkan jika ada yang akan melahirkan. Saat acara hampir usai, terdengar keributan dari dapur. Rahayu terjatuh saat membawa piring-piring kotor. Nugroho segera memerintahkan Ode, nama kecil Pak tua, untuk memanggil dukun beranak. Naasnya, bayi mereka terselamatkan, namun tidak dengan Ibu dari bayinya.
• Anak Kecil yang Dikutuk
Hari berlalu berganti minggu. Bulan beranjak menyulam tahun. Tidak terasa Sri sudah berusia delapan tahun. Perlahan, tapi pasti kesedihan atas kepergian istrinya tertinggal di belakang. Nugroho kembali jatuh cinta dengan wanita asli Pulau Bungin, namanya Nusi Maratta. Mereka dikaruniai satu anak laki-laki yang diberi nama Tilamuta. Nugroho mempunyai janji pada Sri untuk membelikannya sepatu baru saat ulang tahun Sri. Namun, untuk mendapatkannya, Nugroho harus menyeberangi laut. Saat itu cuaca buruk, awalnya Nusi tidak mengizinkan. Namun, akhirnya Nusi dengan berat hati memperizinkannya. Awalnya terlihat sangat indah, Sri mendapatkan Ibu kembali. Namun, sesuatu terjadi, dan sejak saat itu Nusi berubah membenci Sri, bahkan kemudian tega menyebut Sri dengan sebutan "anak kecil yang dikutuk"
• Bulu Babi dan Teripang
Siapa yang tahu bahwa kemarin adalah hari terakhir Sri melihat Bapaknya. Berhari-hari Sri menunggu Bapaknya di tepi lautan. Tiba saatnya Kepala Kampung bersama anaknya, Ode, menemui Sri dan mengatakan: "Bapakmu memang pelaut yang tangguh, Nak, dia bisa melewati badai apapun. Tapi dia terjebak di area badai besar puting beliung di tengah lautan, kapalnya terbalik." Gadis kecil itu tegugu, matanya mendadak terasa panas. Sri berlarian di jalan setapak, melintasi rumah-rumah rapat, tidak tahu mau ke mana. Dia tidak mau ada yang melihatnya menangis. Nusi Maratta menerima kabar itu lebih buruk. Perempuan itu menjerit histeris. Bahkan Nusi sejenak lupa jika bayinya, Tilamuta, merengek minta ASI. Sejak kepergian Nugroho, Nusi menjadi keras dengan Sri Ningsih. Ia selalu memperdayakan Sri tanpa tahu sakitnya anak itu. Bertahun-tahun Sri mengalami kekerasan, fisiknya disakiti, hatinya tersakiti. Warga yang mengetahui hal itu, tidak bergerak melindunginya. "Itu bukan murni kesalahan Nusi. Itu kesalahan kami semua," sesal Pak Tua.
• Selamat tinggal Pulau Bungin
Suatu hari, terjadi kejadian yang tidak pernah terbayangkan. Tilamuta tidak sengaja menyenggol lampu teplok yang dia nyalakan. Api membesar menyambar setiap sudut rumah mereka. Sri berusaha menyelamatkan Ibu tirinya dan Tilamuta. Saat memaksa Ibunya untuk keluar, Nusi sudah pasrah dan menyuruh Sri segera keluar dengan Tilamuta. Nusi meminta maaf kepada Sri Ningsih atas segala perbuatannya. Sri mengangguk dan segera keluar. Sore itu, rumah panggung besar Nugroho habis terbakar. Nusi Maratta meninggal, tubuhnya nyaris tidak dikenali lagi bersama puing-puing.
• Madrasah Kiai Ma'sum
Setelah menelusuri kehidupan Sri Ningsih di Pulau Bungin, Zaman meninggalkan Sumbawa. Pilot langsung membawa pesawat menuju tujuan berikutnya, Surakarta, Jawa Tengah. Pesawat jet pribadi itu mendarat mulus di Bandara Adi Sumarmo, Surakarta. Zaman segera menuju alamat Madrasah yang ada di buku diary milik Sri. Sesampai di madrasah, Zaman langsung diajak Pak Kiai untuk makan malam. Setelah mengetahui tujuan kedatangan Zaman, Pak Kiai memanggil Ibunya, Ibu Nur'aini untuk menceritakan tentang Sri Ningsih.
• Tiga Sahabat Sejati
Pagi di tahun 1961, Sri Ningsih bersama Tilamuta melangkah menuju madrasah. Kedatangan mereka berdua disambut gembira oleh Kiai Ma'sum. Sejak hari itu, Sri bertemu dengan Nur'aini, putri bungsu dari Kiai Ma'sum, yang besok lusa menjadi sahabat terbaiknya. Sri juga bertemu dengan Sulastri, salah satu guru madrasah yang sebulan lalu menikah di Yogyakarta. Mereka bertiga kompak, dimana ada Sri, maka hampir bisa dipastikan di situ juga ada Nur'aini dan Sulastri. Tahun demi tahun berlalu, Sri sangat berbakat dalam bahasa. Maka, ia mendapat tawaran Kiai Ma'sum untuk menjadi guru dan Sri tidak menolaknya.
• Dengki yang membakar Semuanya
Suatu hari, Sri mendapat berita yang mengejutkan. Nur, sahabatnya akan dilamar oleh Arifin, salah satu cucu ulama besar. Setelah pernikahan, Arifin ikut membantu Kiai Ma'sum mengurus madrasah. Musoh, suami Sulastri menjadi iri hati karena kehadiran Arifin. Sulastri dan Musoh menjadi sering menghindari Nur'aini. Musoh berhenti bekerja begitupun juga Sulastri. Mereka akhirnya meninggalkan madrasah. Bulan berikutnya, terbetik kabar jika Sulastri menggelar pertunjukan drama di kampung sebelah, tempat dia tinggal. Sri sangat bersemangat menontonnya. Ketika pergelaran terjadi, Sri bingung. Pergelaran itu bukan ceramah agama, melainkan ajaran sesat. Sri pulang dengan berjuta pertanyaan di kepalanya.
• Pengkhianat I
Selepas kejadian itu, Sri Ningsih tetap berusaha menemui Sulastri. Saat Sri masuk kawasan rumah Sulastri, Sri dicegat empat orang wanita dan dikurung di dalam kamar. Sulastri menemui Sri dan berkata bahwa dia dengan suaminya akan menguasai madrasah. Puluhan massa mengepung madrasah, terjadi pertikaian hebat yang dipimpin oleh Musoh. Sementara, Sri masih terus berusaha untuk mengeluarkan diri dari kurungan itu. Namun, saat sudah lepas, Sri sudah terlambat. Untung saja Nuraini dan Arifin selamat. Sedihnya, Tilamuta, keluarga Sri satu-satunya telah tewas nyaris tak dikenali. Sulastri akhirnya dilaporkan pada pihak berwajib.
• Pasar Tanah Abang
Keesokan harinya, Zaman menelusuri tempat-tempat di sekitar Tanah Abang. Sialnya, semua sudah berubah. Pukul sebelas malam, Zaman berpamitan. Dia telah mendengarkan seluruh kisah. Zaman menerima kotak jati kecil milik Nur'aini yang berisi foto-foto, dokumen, dan surat-surat dari Sri. Setelah berpamitan, Zaman segera berangkat ke Jakarta.
• Pedagang Kaki Lima
Sueb, pengemudi ojek online yang dipakai jasanya oleh Zaman bersedia mengantarnya kemana saja. Sueb bercerita tentang asal-usul pedagang kaki lima pada zaman itu. Setelah membaca surat Sri, Zaman menyadari bahwa Sri Ningsih lah yang merevolusi cara berdagang kaki lima. Usaha Sri melalui gerobak sederhananya itu sangat ramai. Perlahan usahanya berkurang karena banyak saingan dan Sri pun berhenti berdagang.
• Rental Mobil & Sabun Mandi 'Rahayu'
Dalam surat Sri yang kesebelas, Sri menceritakan ia membuka usaha rental mobil. Lagi-lagi usahanya tidak berlangsung lama. Usaha rental mobilnya hancur saat mahasiswa berdemo di Jakarta
Namun, Sri tidak pantang menyerah. Dia bekerja di pabrik sabun cuci. Tiga tahun kemudian, Sri berhenti dan membuat pabrik sabun sendiri. Zaman menanyakan alamat pabrik sabun milik Sri pada Sueb. Dengan semangat yang tinggi, Sueb menjalankan motornya menuju alamat tersebut.
• Chaterine, Kepala Pabrik
Awalnya, sekuriti menolak kedatangan Zaman. Setelah menelepon pimpinan, akhirnya sekuriti mempersilahkan Zaman untuk masuk. Zaman melipat buku catatannya, merapikan kembali surat surat Sri Ningsih. Dia telah menggenapkan menelusuri kehidupan Sri Ningsih di Jakarta. Dia harus melanjutkan ke fase berikutnya. Semoga di London ada jawabannya. Di dalam pabrik, Zaman dan Sueb bertemu dengan Chaterine, Kepala Pabrik. Chaterine menceritakan bahwa Sri menjual 100% kepemilikan pabrik tersebut. Sebagai imbalannya, perusahaan raksasa dunia itu memberikan 1% kepemilikan global absolut di perusahaan induknya, kepemilikan yang tidak terdelusi oleh right issue, penambahan saham, dsb.
• Sopir Bus Rute 16
Keesokan harinya, Sri mencatat lowongan pekerjaan. Dia tertarik pada stiker yang tertempel pada bus kota. Akhirnya, ia menghubungi nomor yang tertera dan syukurnya ia diterima menjadi pengemudi. Sri Ningsih tiba di London, sore hari tanggal 4 Januari 1980. Sri gugul saat tiba di bandara. Ia segera mencari penginapan murah dan ia menemuinya
• Laki-Laki dari Turki
Sebulan berlalu, Lucy, teman pengemudi Sri merasa ada yang aneh dengan Hakan. Dia menggoda Sri dan berkata bahwa Hakan memiliki ketertarikan dengan Sri. Suatu hari, ada seorang penumpang laki-laki yang berasal dari Turki mengajak Sri untuk berkenalan, namanya Hakan. Sampai akhirnya Hakan berani mengajak Sri jalan dan Sri tidak menolaknya. Dari situ kisah mereka dimulai.
• "Tentang Kamu"
Tidak disangka, Hakan dan Sri Ningsih memutuskan untuk menikah. Kabar baik datang dengan cepat, Sri mengandung anak pertama mereka. Menyambut tujuh bulan, mereka menggelar syukuran. Selama syukuran berlangsung, Sri terlihat sangat riang. Sri bergerak kesana kemari menyambut tamu. Tanpa Sri sadari, peristiwa yang terjadi pada ibunya 42 tahun lalu terulang lagi padanya. Sri dan Hakan kehilangan anak mereka. Itu masa-masa sulit bagj Sri. Hakan berkomitmen penuh untuk menemani istrinya melewati fase itu. Beberapa bulan berlalu, suasana gembira menghampiri mereka. Sri dikabarkan telah mengandung anak mereka di usia yang cukul tua. Namun, lagi-lagi kegembiraan itu tidak bertahan lama. Sri Ningsih kembali keguguran anak keduanya tersebut. Suatu hari, Hakan pulang dari pekerjaannya dengan kondisi payah. Sri segera membawa Hakan ke rumah sakit. Awalnya, Hakan bersikap baik-baik saja. Tiba-tiba Hakan gaya berbicara seperti ingin berpisah. Setelah mengucapkan kalimat perpisahan, tubuh Hakan mengejang. Sri segera teriak memanggik dokter. Dokter berusaha memberikan alat kejut listrik, sia-sia, Hakan telah pergi selama-lamanya.
• A&Z Law
Belum juga usai Zaman menjajaki bagian akhir kehidupan Sri Ningsih, dirinya dihubungi bahwa firma hukum dari A&Z Law mengajukan sebuah permintaan rapat sebagai delegasi ahli waris yang tersisa. Zaman sangat didesak oleh waktu, ia pun berangkat ke Paris untuk menyelidiki bagian terakhir dari kehidupan Sri Ningsih.
• Ningrum dan Murni
Zaman menaiki mobil dan bergegas menuju Avenue Kléber, kantor pusat A&Z Law. Sesampainya di sana ia bertemu dengan Nyonya Ningrum dan putrinya Murni. Wajah mereka mirip satu sama lain, kemungkinan besar anak dan ibu. Mereka berdua memaksa agar warisan Sri Ningsih jatuh ke mereka karena mereka mengaku Tilamuta adalah suami dari Murni. Zaman memaksa agar Tilamuta segera menemuinya untuk membongkar kebenaran. Namun, anehnya Ningrum dan putrinya menolak dengan tegas. Karena Zaman tidak mudah ditipu, Zaman meminta waktu untuk mencari kebenaran nya.
• Keliling Dunia dan Wasiat
Zaman mengambil kotak kayu jati yang selalu dia bawa ke mana-mana sebelas hari terakhir. Lantas hati-hati mencungkil dasar kotak. Zaman menahan napasz tangannya gemetar mengambil surat itu. Itulaj benda yang dia cari-cari selama ini, surat wasiat Sri Ningsih. Sri Ningsih memulai surat itu dengan tulisan bismillah dalam huruf Arab. Lantas dua menyebut semua nama, orang-orang yang pernah bersentuhan dengan hidupnya. Zaman mendesis perlahan, Dia punya amunisi untuk berperang dengan A&Z Law. Dia akan membuka topeng Ningrum dan akan menyelamatkan Tilamuta. Lengkap sudah benang merah investigasinya, Zaman Zulkarnaen sudah memahami seluruh kehidupan Sri Ningsih.
• Pengkhianatan 2
Zaman menelepon operator telepon A&Z Law dan memaksa mereka memberi alamat Ningrum. Setelah mendapatkan alamat Ningrum, Zaman menyamar menjadi tukang pengantar pizza. Zaman masuk ke rumah Ningrum dengan cepat. Ningrum terlihat merah padam setelah melihat wajah Zaman yang ia kira pengantar pizza. Terungkap fakta bahwa Ningrum merupakan Sulastri, teman Sri Ningsih dan Nur'aini yang mengkhianati mereka. Zaman mengungkap secara terang-terangan kisah Sri dan memberi buku diary Sri sebagai bukti bahwa Sri sangat menyayangi Sulastri. Sulastri tetap menganggap Sri adalah pengkhianat, dia masih dendam karena dicebloskan ke penjara. Sulastri memanggil pengawal dan terjadilah perkelahian. Saat pengawal mulai kewalahan, Zaman segera menuju ruangan belakang. Akhirnya ia menemukan Tilamuta dikurung dalam kerangkeng besi dengan kondisi yang sangat memprihatikan. Sebelum terlambat, Tilamuta segera diberi penanganan di rumah sakit. Zaman berencana akan mebawa Tilamuta ke Surakarta agar Tilamuta bisa dirawat oleh Nur'aini.
Selesai sudah tugas Zaman Zulkarnaen. Sir Thompson mengucapkan selamat pada Zaman karena sudah berhasil menemukan titik terang kasus tersebut dan berhasil gabung menjadi senior lawyer di firma hukum Thompson & Co.
Analisis
Kelebihan :
Terdapat banyak pesan moral yang disampaikan penulis kepada pembaca. Selain itu, bahasa yang digunakan oleh penulis cukup mudah dipahami.
Kekurangan :
Jumlah halaman cukup tebal, mungkin pembaca akan merasa bosan dan lelah saat membacanya. Namun, hal ini ditutupi oleh alur cerita yang sangat menarik sehingga pembaca merasa penasaran dengan hal-hal yang terjadi pada halaman berikutnya.
Evaluasi :
Saat membaca buku Tentang kamu ini, kita akan sering kali diberi kejutan-kejutan yang sangat di luar ekspetasi. Dari awal saja sudah banyak kejutan yang membuat kita menebak alur selanjutnya, namun ternyata yang kita tebak tidak sesuai dengan alur yang tertulis.
Bagi pembaca yang suka bacaan yang panjang penuh dengan misteri, saya menyarankan buku ini untuk dibaca. Meskipun akan muak karena melihat tebal buku ini, saya yakin kalian akan tertarik terus untuk membaca halaman-halaman selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar